MANDI SENDIRI

cerbay1Pagi tanpa mentari. Tertutup awan hitam yang sesekali memuntahkan airnya mengguyur bumi. Sesampainya di kantor, tumpukan pekerjaan dan jadwal rapat yang padat telah siap menyibukkan nya hari itu. Usai dzuhur ia kembali menyelesaikan tumpukan pekerjaannya hingga lupa makan siang. Ia baru merasakan bahwa ia belum makan siang saat akan ashar kepalanya mulai pusing. 

Fachry partner kerja barunya di perusahaan baru mendekati Rusdi yang sedang duduk kursinya sambil mengurut urut keningnya usai ashar. “kenapa lu , Sakit lu?” Tanya Fachri sambil duduk di depan Rusdi.
“Biasa nih kalau gue telat makan, ujung ujungnya masuk angin dan akhirnya kepala gue pusing” jawab Rusdi.
“Ayo gue temenin kebawah cari makan. Nanti lu sakit bisa kacau nih projek kita” kata Fachry sambil memaksa Rusdi keluar kantor untuk makan.

Sesampainya di kantin, Rusdi berusaha pelan pelan makan walau ia sudah merasa mual dan kepalanya makin sakit. Setelah makan ia minum obat masuk angin dan sebentar duduk dikantin menetralisir rasa sakit kepalanya dengan ditemani Fachry.

Kantin hanya diisi oleh beberapa orang saja termasuk Rusdi dan fachry karna telah lewat jam makan siang.  Saat Rusdi menikmati kopi dan 234 bersama Fachry, tiba tiba penjaga kantin berteriak pada salah seorang yang tiba tiba keluar kantin.
“Heii! Pak ! Pak! Bayar dulu!” teriak penjaga kantin. Penjaga kantin berniat mengejar tapi Rusdi langsung memanggil penjaga kantin itu.
“Udahh Didi jangan dikejar! Sini lu” kata Rusdi sedikit berteriak.
“Dia belum bayar pak” kata Didi sambil menemui Rusdi.
“Lu ikhlasin aja. Gak usah ngotot gitu. Satu gak kebayar gak sebanding ratusan karyawan makan disini setiap hari” kata Rusdi sambil terus mengurut kepalanya.
“Nanti jadi takut kebiasaan pak” kata Didi.
“Gak usah berfikir lebay gitu, Di. Lu gak ikhlas, hati lu sakit dan kepikiran. Kalau lu ikhlas, lu punya harapan dapat catatan kebaikan dari Allah. Kalau lu masih gak ikhlas juga, biar gue bayarin makan orang tadi” kata Rusdi.
“Heheh gak usah pak. Saya coba ikhlas aja” jawab Didi malu.
“Naahh gituu doong. Itu namanya temen gue..” kata Rusdi membesarkan hati penjaga kantin itu yang telah ia kenal selama tiga bulan ini.

Usai menyelesaiakn segelas kopi hitam, akhirnya Rusdi dan Fachry kembali ke kantor. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga. Sesekali Rusdi mengurut keningnya karena masih sedikit merasa kepalanya pusing.

Malam telah merambat pelan. Rusdi akhirnya menyelesaikan pekerjaannya sekitar jam Sembilan malam. “Gue bawain mobil lu Rus. Pusing lu sepertinya gak hilang hilang” kata Fachry.
“Waahh thank you bro..” kata Rusdi sambil nyengir.
Selama perjalanan pulang, Rusdi sempat membuka handphonenya dan membaca pesan pesan yg masuk.

Sesampainya dirumah Aisyah langsung bisa menebak kalau Rusdi masuk angin.

“Tadi telat makan ya? Jadi masuk anginkan?” kata Aisyah sambil membawakan tas kerja Rusdi.
“Heheh..kok tahu sih?” kata Rusdi sambil duduk di ruang tamu dan membuka sepatunya.
“Kalau kakak sudah sering pijit kening kakak, artinya kakak pusing. Dan pusing kakak karena masuk angin. Dan itu dikarenakan kakak telat makan” kata Aisyah sambil membuka kancing baju Rusdi.
“Heheh..tahu aja. Berarti tahu juga doong kalau saya butuh dikerok dan diurut biar sakitnya hilang” kata Rusdi menggoda.

Aisyah menarik Rusdi ke kamar dan menjatuhkannya di kasur, “Tidak usah kakak katakana, aku akan melakukannya. Karena itu adalah ladang amal saya” kata Aisyah sambil memegang pipi Rusdi dan menatapnya tajam tajam mata suaminya.
“Heheh..tapi saya mau ketemu Farhan dan Icha dulu” kata Rusdi berusaha bangun dari tempat tidur. Aisyah langsung mendorong Rusdi lagi dan berkata, “Anak anak sudah tidur, kak. Hanya saya yng belum tidur”
“Waahh anak anak bakal marah sama saya dek karena pulang kerja malam lagi..heheh” kata Rusdi.
“Kalau sekali sekali gak apa apa. Asal jangan keseringan. Sekarang kakak mandi pakai air panas dulu. Setelah itu nanti saya kerok dan urut pakai minyak zaitun. Kakak sudah Isya kan?” kata Aisyah.
“Saya tadi sudah Isya di kantor dek. Btw, saya mandi sendiri aja?” Tanya Rusdi polos.
“Iihhhh.. sudah sana mandi cepetannn” kata Aisyah gemas sambil membangunkan Rusdi dari kasur.

Crriing

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*

  • Hide